Penulis Redaksi
PelajarJATIM
SURABAYA – Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur tengah melakukan kajian mendalam terkait rencana penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama satu hari dalam sepekan. Kebijakan ini direncanakan berlaku bagi jenjang SMA dan SMK di wilayah Jawa Timur sebagai bagian dari adaptasi sistem pendidikan pascapandemi yang lebih fleksibel.
Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan literasi digital siswa sekaligus memberikan ruang bagi kemandirian dalam proses belajar mengajar.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim menjelaskan bahwa PJJ satu hari dalam seminggu bukan sekadar memindahkan kelas ke rumah, melainkan upaya untuk melatih siswa dalam manajemen waktu dan pemanfaatan teknologi secara produktif. Dalam kajian tersebut, sekolah didorong untuk menciptakan modul pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang menarik.
"Kami ingin siswa tidak gagap teknologi dan memiliki kemampuan belajar mandiri yang kuat. Satu hari PJJ ini akan menjadi waktu bagi mereka untuk mengeksplorasi materi melalui platform digital dengan pengawasan guru secara daring," ujar Kadindik Jatim, Senin (30/3/2026).
Rencana ini memicu beragam tanggapan. Sebagian pihak menilai kebijakan ini sangat relevan dengan tuntutan dunia kerja masa depan yang semakin mengarah pada sistem kerja hibrida (hybrid working). Namun, beberapa wali murid tetap berharap ada pengawasan ketat dari sekolah agar waktu PJJ tidak disalahgunakan oleh siswa untuk sekadar bermain gawai di luar kepentingan edukasi.
Jika hasil kajian menunjukkan hasil positif, Jawa Timur berpotensi menjadi pelopor dalam normalisasi sistem pembelajaran hibrida di tingkat pendidikan menengah di Indonesia.
